search

Selasa, 04 Juni 2013

Dampak Positif dan Negatif Twitter SBY

POSITIF 
Kabar baru kembali muncul dari seorang SBY. Beberapa headline pemberitaan dari berbagai media mengabarkan bahwa ‘beliau’ akan membuat sebuah akun Twitter. Kabarnya langkah ini dilakukan SBY sebagai salah satu upaya dalam usaha pendekatan yang lebih hangat kepada rakyatnya. 
Ya, yang menjadi hal menarik adalah ketika SBY membuat akun  ini dengan statusnya sebagai kepala negara. Mungkin akan menjadi hal yang biasa saja saat ia membuat akun sebagai seorang pribadi Yudhyono. Sebagai masyarakat yang memiliki daya nalar, tanpa harus menjadi seorang Einstein sekalipun tentu kita akan mampu sadar bahwa langkah seperti ini akan memancing berbagai tanggapan dari berbagai kalangan. Begitu pula dengan SBY sendiri, beliau tentu sadar betul dengan apa yang ia lakukan dan akan seperti apa feed back yang mungkin saja dapat timbul dari langkah ini.
Tak butuh waktu lama, jika dalam beberapa waktu terakhir kita cermati kembali beberapa media elektronik maka dapat dilihat berbagai tanggapan dari berbagai kalangan tentang upaya ini. Sebagian orang yang memiliki pandangan politik, menilai hal ini sebagai suatu upaya pencitraan di hadapan rakyat. Terlebih hal ini dianggap pula sebagai upaya basi dalam pendekatan kepada rakyat karena dilakukan saat detik – detik menjelang pemilihan umum. Tak ayal banyak pula tanggapan yang menggiring kepada penilaian sosok SBY sebagai seorang pribadi yang munafik dan penuh dengan kepalsuan serta kebohongan. Selaian itu SBY juga dinilai mengambil langkah yang tidak terlalu esensial dalam mengurusi masalah negeri. Bagi sebagian kalangan, masih banyak hal besar yang dapat dilakukan ketimbang mengurusi sebuah akun jejaring sosial.
Ibarat kedua sisi mata uang, penilaian terhadap upaya ini tak melulu menjadi pandangan negatif. Nyatanya tak sedikit pula yang memandang hal ini sebagai upaya positif dengan langkah strategis melalui pemanfaatan kemajuan teknologi komunikasi sebagai media. Hal ini juga dinilai sebagai opsi yang variatif bagi jembatan komunikasi antara rakyat dan penguasanya.
Banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin dalam upaya pendekatan emosional terhadap rakyatnya. Termasuk yang dilakukan oleh seorang SBY dengan membuat akun Twitter. Tak ada yang salah ketika hal ini dilakukan dengan dasar demi kesejahteraan rakyat. Segala kebijakan sah – sah saja dilakukan oleh seorang presiden demi kewajibannya melayani rakyat. Tak ada yang dirugikan dalam hal ini, nothing to lose bagi rakyat. Hanya karena sebagai sesuatu yang dianggap sepele, tak berarti membuat langkah ini menjadi sesuatu yang bernilai negatif.
Banyak yang memandang suram apa yang dilakukan oleh SBY. Tapi hal yang sama tetap akan terjadi meski bukan SBY yang berperan sebagai presiden. Pada dasarnya, siapapun yang menjadi penguasa maka akan tetap ada yang berperan sebagai penentang - hal ini kodrati -.
Munculnya penilaian yang menganggap hal ini sebagai upaya pencitraan hanya muncul dari mulut seorang yang khawatir akan keberhasilan langkah ini. Rakyat tak dirugikan, meski pula tak dijamin diperoleh keuntungan. Jadi, meski ini sebagai upaya pencitraan oleh seorang SBY, apa yang harus dipermasalahkan? terkecuali jika SBY berbalik mencekik  rakyatnya dengan langkah ini. Tak perlu pusing dengan pencitraan, toh penilaian kembali ditentukan oleh masing – masing pribadi yang memamandang. 
Penilaian buruk dengan beranggapan  bahwa ini menunjukkan pribadi SBY sebagai seorang munafik tentu juga bukan hal yang relevan. Biarlah penilaian tentang kemunafikan maupun tentang ketulusan seseorang dikembalikan kepada tuhan. Rakyat tinggal menunggu dampak positif yang mungkin muncul sebagai produk dari upaya ini.
Hanya saja, jika didasari dengan upaya untuk mendekatkan diri kepada rakyat, langkah ini menjadi suatu terobosan yang kurang universal. Tak ada yang salah memang, tapi ini tentu akan menggiring pada pertanyaan tentang seberapa banyak dari rakyat indonesia yang aktif menggunakan akun jejaring sosial ini? Serta sasaran rakyat seperti apa yang menjadi terget pendekatan ini?
Perlu dicatat bahwa sebagian besar rakyat indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka hidup tanpa sempat memikiran hiruk pikuk dunia jejaring sosial. Sedangkan, suara dari rakyat yang berada dalam ‘sebagian besar’ inilah yang seharusnya menjadi sebuah prioritas yang paling utama untuk didengar langsung oleh telinga seorang presiden.

NEGATIF
Beberapa waktu lalu saya menulis  dan mengkritisi agar SBY menutup akun twitternya karena akan kontraproduktif  sehubungan dengan banyak tanggung jawab beliau yang super berat se- Indonesia Raya.
Setiap segala hal yang baru menuntut suatu pengorbanan pada hal yang lama. Twitter yang secara normatif adalah hal yang baru bagi kalangan istana akan meminta korban, minimal korban waktu. Sebagai presiden RI waktu presiden sangat amat berharga dari pada menangani hal-hal kecil yang semestinya bisa dialihtugaskan kepada pembantu-pembantunya.
Bukan bermaksud negatif. Tapi kesan SBY ingin membangun citra melalui twitter tidak dapat dipungkiri. Karena parapunggawanya di partai demokrat sendiri membuat citra SBY yang semakin turun, dan meski punggawanya mencoba membangun citra positif SBY tapi tetap efeknya tidak bisa mengubah citra di masyarakat yang semakin rendah, oleh karena itu SBY turun gunung membangun citranya kembali melalui twitter. Punggawa-punggawanya yang asal omong dan terbukti korupsi adalah sumber investasi negatif bagi partai Demokrat. Tapi citra SBY yang makin turun lebih diakibatkan oleh perbuatannya sendiri.
Efek kesibukan SBY bertwitter terlihat pada proses pergantan Menkeu, Agus Martowardoyo yang diganti oleh Hatta Rajassa. Padagal Hatta Rajasa telah menjabat koordinator Ekonomi yang tanggung jawabnya tidak bisa dibilang sederhana. Sepertinya SBY tidak serius dalam mempersiapkan pengganti menkeu sebelumnya yang telah ditunjuk oleh DPR sebagai Gubernur BI.
Lagi-lagi di sini mempertontonkan ketidak konsistenan SBY agar menterinya fokus pada tugasnya, malah presidennya sendiri menambah tugas menteri yang sebelumnya bukanwewenang menteri yang bersangkutan. Penunjukkan Hatta Rajasa sebagai Menkeu menggantikan Agus Martowardoyo adalah cara instan SBY menyelesaikan masalah kabinetnya.
Semua masalah yang menuntut keseriusan bagi istana, semenjak SBY sibuk dengan twitternya menjadi terabaikan dan bertindak tanpa perhitungan yang matang. Rangkap jabatan yang sudah dihalalkan SBY menjadi jalan keluar yang praktis untuk menyelesaikan masalah kekosongan kabinetnya.
Nuansa politis tentu mudah dianalisis agar sama-sama menguntungkan antara demokrat dan PAN pada 2014 kelak.

Referensi :
- http://www.tribunnews.com/2013/04/14/pentingkah-sby-memiliki-akun-twitter
- http://politik.kompasiana.com/2013/04/22/dampak-negatif-twitter-sby-549173.html

1 komentar: